Cari Blog Ini

Senin, 12 Januari 2015

Apakah Hutang Wajib di Catat?



Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Soal:

Apakah menghutangi orang itu mendapatkan pahala? Dan apakah wajib mencatat hutang?

Jawab:

Al Qardh (hutang), atau yang dikenal banyak orang dengan At Taslif (memberi pinjaman) hukumnya sunnah dan di dalamnya terdapat pahala, berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Baqarah: 195).

Dan tidak mengapa seseorang untuk berhutang, karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terkadang berhutang. Maka hutang hukumnya mubah bagi orang yang hendak berhutang, dan sunnah bagi orang yang menghutangi.

Namun orang yang menghutangi wajib untuk menjauhi sikap gemar menyebut-nyebut hutang tersebut kepada orang yang ia hutangi. Atau juga memberikan gangguan kepadanya dengan mengatakan misalnya, “saya kan sudah berbuat baik kepadamu dengan memberikan hutang kepadamu…” atau semisalnya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَذَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al Baqarah: 264).

Adapun soal mencatat hutang, jika harta yang dihutangkan adalah milik sendiri maka yang afdhal (sunnah) adalah mencatatnya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” (QS. Al Baqarah: 282).

Dan boleh saja jika tidak mencatatnya, apalagi jika hutangnya dalam perkara-perkara yang kecil, yang biasanya secara adat orang-orang tidak terlalu serius di dalamnya.

Adapun jika harta yang dihutangkan adalah miliki orang lain, misalnya jika ia mengelola harta anak yatim dan karena suatu maslahah ia menghutangkannya kepada orang lain, maka ia wajib mencatatnya. Karena ini merupakan bentuk penjagaan terhadap harta anak yatim. Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa” (QS. Al An’am: 154).



Sumber: Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 2/16, Asy Syamilah



Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber : Artikel Muslim.Or.Id

Sabtu, 10 Januari 2015

Kursi Tamu

Harga : Rp 6.000.000,-
hubungi : 0857-6251-8075

Melewati Dua Jalan Ketika Menunaikan Shalat Jum’at



Pertanyaan:

Di antara sunnah shalat ‘ied adalah melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari shalat ‘ied. Apakah sunnah ini juga berlaku ketika melaksanakan shalat Jum’at?

Jawaban:

Sunnah melaksanakan shalat ‘ied adalah pulang melalui jalan yang berbeda dengan jalan yang kita lalui ketika kita berangkat menuju shalat ‘ied (melewati dua jalan). Perkara ini sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا خَرَجَ يَوْمَ اْلعِيدِ فِى طَرِيْقٍ رَجَعَ فِي غَيْرِهِ.

Dari Abu Hurairah, ia berkata “ Dahulu Rasulullah SAW apabila melewati jalan saat pergi Shalat Hari Raya, maka ketika pulang beliau mengambil jalan lain (dari yang telah dilalui waktu pergi)”. (Riwayat Tirmidzi juz 2, hal. 26, no. 539)

Dan perihal melewati dua jalan ketika shalat jum’at. Ada beberapa pendapat tentang masalah ini.

1. Disunnahkan untuk mendatangi shalat jum’at dari satu jalan, kemudian pulang dari jalan yang lainnya, Karena shalat jum’at adalah shalat ‘ied juga (jum’at adalah hari raya umat Islam) dan berkumpulnya manusia, maka disunnahkan untuk melewati jalan yang berbeda.”

2. Disunnahkan menghadiri shalat (lima waktu berjama’ah) melalui suatu jalan, kemudian pulang melalui jalan yang lain.

3. Ada juga yang berpendapat bahwa melewati jalan yang berbeda juga disunnahkan pada setiap amalan yang telah disyariatkan, seperti menjenguk orang yang sakit, atau menyambung silaturrahim antar kerabat. Namun qiyas yang seperti ini kurang tepat, karena kita ketahui bersama, walaupun semua amalan yang disebutkan tadi telah dilakukan pada masa Rasulullah. Akan tetapi tidak ada yang menukil suatu riwayat dari Rasulullah bahwasanya beliau melewati dua jalan ketika melakukan amalan-amalan tersebut.

4. Syaikh al-‘Utsaimin berpendapat bahwasanya sunnah ini hanya khusus dilakukan untuk shalat ‘ied saja. Tidak untuk shalat atau ibadah yang lainnya., sebagaimana pendapat beliau dalam kitab Syarhul-Mumti’

Pendapat syaikh ‘Utsaimin adalah pendapat yang lebih tepat. Karena jika kita mengatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua jalan ketika melaksanakan shalat jum’at atau amalan lainnya. Lantas kenapa tidak ditemukan nash yang jelas terkait hal ini? Yang menandakan bahwa beliau tidak melakukannya.

Ketika beliau meninggalkan suatu perkara karena suatu sebab, maka bagi kita meninggalkan apa yang beliau tinggalkan, sama dengan mengikuti sunnah beliau. Dan beribadah dengan perkara yang Rasulullah tinggalkan tidak disyari’atkan dalam Islam. Kita ketahui bersama, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri shalat Jum’at dan beliau tidak menyelisihi jalan, begitu juga ketika beliau mengunjungi shahabat-shahabat beliau, menjenguk orang yang sakit, menghadiri shalat lima waktu, dan beliau tidak menyelisihi atau mengambil dua jalan ketika beliau pulang dari melaksanakannya. Maka pendapat yang lebih benar adalah, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah melewati dua jalan hanya ketika melaksanakan shalat ‘ied.
Wallahu a’lam.

Sumber : Alislamu.com

Jumat, 09 Januari 2015

Kursi Sofa


Harga : Rp 18-20 juta
Hubungi : 0857-6251-8075 atau PM disini

Anda Ingin Menasehati? Perhatikan ini



Diceritakan bahwasanya Hasan dan Husein melewati seorang lelaki tua yang sedang berwudhu, namun ia tidak menyempurnakan wudhunya. Kemudian Hasan dan Husein sepakat untuk menasehati lelaki tersebut dan mengajarkannya bagaimana cara berwudhu yang benar. Maka mereka berdua berdiri di samping lelaki tua itu, dan berkata kepadanya, “ Wahai paman, lihatlah, manakah di antara kami berdua yang paling baik cara berwudhunya.”

Kemudian mereka berdua berwudhu, dan lelaki tua itu memperhatikan dan menyaksikan bahwasanya mereka berdua menyempurnakan wudhunya. Seketika itu, lelaki tua tersebut mengetahui bahwasanya dia lah yang tidak menyempurnakan wudhunya dan berterima kasih kepada Hasan dan Husain karena telah menasehati dan menegurnya tanpa menyakitinya.

Dari kisah tersebut, kita mengetahui bahwa nasehat merupakan salah satu pilar di antara pilar-pilar agama Islam. Allah ta’alaa berfirman,

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“ Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 3)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

“ Sesungguhnya agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “ Untuk siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “ Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim. ” (Riwayat Abu Dawud, no. 4944)

Dan bagi seseorang yang hendak menasehati, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan jika ia ingin menasehati orang lain.

1. Ikhlas dalam menasehati, tidak semestinya ia menampakkan bahwa dirinya yang paling bijak, atau menasehati dengan tujuan untuk memperolok orang yang hendak dinasehatinya. Ia menasehati hanya untuk mengharap ridho Allah. Maka sebaiknya ia menggunakan kata-kata yang lembut dan baik, karena perkataan yang baik adalah kunci terbukanya pintu hati seseorang. Allah ta’alaa berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

2. Menasehati saudaranya secara diam-diam (bicara empat mata), bukan menasehati atau membuka aibnya di hadapan banyak orang. Sehingga dengan menasehati secara diam-diam, seseorang tidak mempermalukan saudaranya, ataupun menyakiti perasaan saudaranya sesama muslim.

3. Yang juga perlu diperhatikan bagi seseorang yang hendak menasehati adalah, tidak menutup-nutupi kebenaran. Kita harus memberitahukan ‘aib yang dilakukan saudara kita kepadanya (jika ia melakukan kesalahan yang tidak ia sadari) dan jangan menyembunyikannya darinya. Ini merupakan salah satu di antara hak-hak sesama muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ

“ Hak muslim terhadap muslim ada enam perkara,” Para sahabat bertanya, “ Apa itu? Wahai Rasulullah.” Rasulullah menjawab, “ Jika kalian bertemu maka ucapkanlah salam, jika kalian di undang maka penuhilah, jika ia meminta nasehat maka berilah nasehat, dan jika ia bersin maka ucapkanlah alhamduliiah, jika ia sakit maka jenguklah, dan jika ia meninggal maka antarkan ia ke liang kuburnya.” (Shahih Muslim, no. 2162)

Islam adalah agama yang menganjurkan pemelukny auntuk saling membantu dan saling menasehati. Agar sesama muslim saling memperhatikan saudaranya, sehingga seorang muslim dapat menjadi cerminan bagi saudaranya sesama muslim. Dan dengannya mereka dapat memperoleh keutamaan dan kebenaran.

Bayangkan jika seluruh umat manusia saling menasehati, mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Bukankah dengannya Allah akan menuntun kita menuju kebaikan, bagi agama dan dunia kita.

Allah ta’alaa berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71).
Wallahu a’lam bish-shawaab.

Sumber : Alislamu.com

Kamis, 08 Januari 2015

Agar Bisa Qiyamul-lail





“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”(QS. Al Muzzamil:1-4)

Qiyaamullail, atau yang lebih dikenal dengan sholat tahajud, merupakan salah satu ibadah sunnah yang Rasulullah SAW sangat menekankan pelaksanaannya. Bahkan beliau mewajibkannya untuk beliau sendiri. Di dalam hadits, beliau juga menegaskan bahwa sholat tahajud menunjukkan kemuliaan seorang mukmin. Seorang mukmin yang senantiasa konsisten mendirikan sholat tahajud, insya Allah akan selalu dicintai oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW telah bersabda, “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)

Sholat tahajud merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan Allah swt yang paling efektif. Karena, sholat tahajud dilakukan manakala kebanyakan makhluk Allah SWT sedang tertidur lelap. Masa yang penuh dengan kesunyian dan ketenangan akan membantu kita untuk lebih khusyuk bermunajat kepada Allah. Masa yang pas untuk berdo’a, sebagaimana hadits Nabi:

Dari Jabir RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Cara Mudah Menggapainya

Begitu manis keutamaan sholat tahajjud, dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang lain. Namun pada kenyataannya, betapa sedikit sekali umat Muslim yang dapat berdiri dan mengistiqomahkan sholat tahajud ini. Entah karena malas, atau tidak tahu, atau alasan-alasan lainnya. Atau karena sulit untuk bangun? Maka, disini ada beberapa hal yang dapat mempermudah kita demi menggapai manisnya tahajud (Qiyaamullail ):

1. Niat yang Ikhlas

Berniat ikhlas lillahi ta’ala untuk bangun malam dan melakukan sholat tahjud. Dengan niat yang ikhlas, insya Allah akan meringankan pekerjaan yang semula tampak berat.

2. Azam yang Kuat

Mempunnyai azzam (keinginan) yang kuat dan berdo’a agar dimudahkan untuk mendirikan sholat tahajjud.

3. Biasakan tidur di awal waktu.

Jangan begadang untuk hal-hal yang tidak penting, yang akhirnya hanya akan membuat mata kita lelah dan mengantuk sehingga susah untuk bangun di sepertiga malam.

4. Mengamalkan sunnah-sunnah sebelum tidur.

Biasakan berwudhu, sholat sunnah, berdzikir dan berdoa sebelum tidur. Jangan tidur dalam keadaan berhadats (terutama hadats besar), karena hal ini akan menimbulkan kemalasan di waktu bangun malam.
5. Tidak Menganggap sebagai Pekerjaan Berat

Janganlah beranggapan bahwa bangun di sepertiga malam untuk melakukan sholat tahajud itu sebagai pekerjaan yang berat. Karena pemikiran semacam itu akan berpengaruh pada niat dan kekuatan kita untuk merealisasikan niat tersebut.

6. Menyesuaikan Waktu Tidur

Cobalah untuk mengenali dan menyesuaikan waktu tidur masing-masing. Bila kita telah tahu berapakah standar waktu tidur kita masing-masing, maka kita akan dapat menentukan jam berapakah kita harus mulai tidur, sehingga kita akan bangun tepat di sepertiga malam.

Jika memang ada tugas yang harus diselesaikan dan dibawa pada hari esok, lebih baik dikerjakan selepas melaksanakan sholat tahajud, jangan dikerjakan pada waktu malam (sebelum tidur) yang memakan waktu hingga larut malam dan akhirnya akan membuat kita tidak dapat bangun di sepertiga malam (kesiangan).

7. Tidur Siang (qoilulah)

Jika memungkinkan, lakukanlah tidur siang (qoilulah). Dengan tidur siang, insya Allah akan membuat kita lebih kuat untuk bangun di sepertiga malam dan melakukan sholat sunnah tahajud.

8. Hindari Maksiat

Dalam hal ini Sufyan Ats-Tsauri telah menuturkan pengalamannya, “Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan.”.

9. Tidak Terlalu Kenyang

Janganlah makan terlampau kenyang, karena perut yang kenyang akan memberikan efek mengantuk dan malas.

10. Gunakan Alat Bantu (Alarm)

Jangan lupa untuk senantiasa memasang alarm, dan letakkan alarm tersebut di tempat yang jauh dari jangkauan tangan namun tetap dapat terdengar dengan jelas. Dengan demikian, mau atau tidak mau kita akan bangkit dari tempat tidur untuk mematikannya manakala alarm tersebut berbunyi.

11. Efektifkan Kegiatan Siang Hari

Programlah aktivitas siang hari anda dengan seefisien dan seefektif mungkin, sehingga anda tidak terlalu kelelahan untuk bangun di sepertiga malam untuk melakukan sholat tahajud. Hindari kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu penting, yang akan menguras stamina anda.

12. Tanamkan Kesadaran

Tanamkanlah kesadaran bahwa anda memiliki kebutuhan jasmani dan ruhani yang harus anda penuhi keduanya dengan seimbang, tidak berat sebelah.

13. Motivasi Diri

Motivasi diri anda untuk bangun malam dengan cara mempelajari dan mengingat betapa besar keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalam sholat tahajud.

14. Tanam Rasa Rindu

Tanamkan rasa rindu untuk senantiasa bermunajat dan berkhalwat dengan Allah swt.

15. Saling Mengingatkan

Menanamkan rasa amar ma’ruf di dalam keluarga, sehingga akan senantiasa saling mengingatkan, atau membangunkan untuk sholat tahajud.

16. Memohon kepada Yang Maha Kuasa

Jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah swt agar diberikan kemudahan untuk bangun malam dan melakukan sholat tahajud dengan ikhlas dan khusyuk.

Dan masih banyak lagi tips-tips pemudah lain yang belum tertuliskan. Akan tetapi, setidaknya dengan merealisasikan secara kontinyu beberapa tips di atas, insya Allah akan lebih mempermudah kita dalam menggapai keutamaan-keutamaan tahajud. Dengan tahajud, akan dapat ditimbang peningkatan dan penurunan kadar kualitas keimanan seseorang. Oleh karenanya, mari menggapai manisnya qiyaamullail. Wallahul musta’an.

Sumber : Alislamu.com